|
Ditulis oleh netta
|
|
Kamis, 19 April 2012 04:16 |
|
PENGARUH SUSU KEDELAI TERHADAP PENURUNAN RESISTENSI INSULIN PADA TIKUS MODEL DIABETES MELITUS TIPE 2 (THE EFFECT OF SOYBEAN MILK TOWARD INSULIN RESISTANT REDUCTION IN RATS (RATTUS NORVEGICUS) OF TYPE 2 MODEL DIABETES MELLITUS)
Wiwik Handayani1, Ahmad Rudijanto2, M. Rasjad Indra3
1. Program Studi Imu Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendedes Malang 2. Lab Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/RSU dr. Saiful Anwar Malang 3. Lab Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang
ABSTRAK
Diabetes Melitus tipe 2 (DMT2) ditandai dengan adanya hiperinsulinemia dan hiperglikemia . Susu Kedelai merupakan minuman yang bergizi tinggi, terutama karena kandungan proteinnya. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa protein kedelai mampu menurunkan kadar insulin plasma dan kadar glukosa darah Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui Pengaruh susu Kedelai terhadap penurunan resistensi insulin pada tikus model DM tipe 2(DMT2). Penelitian ini merupakan penelitian rancang acak lengkap, dengan pengambilan data kombinasi pre post test only control group design. Hewan coba menggunakan tikus Rattus norvegicuc strain wistar jantan berusia 8 minggu. Hewan coba dibuat model DM tipe 2 dengan kombinasi diet tinggi lemak dan injeksi streptozotocin dosis rendah.Tikus dibagi menjadi 7 kelompok perlakuan yang meliputi (1) kontrol negatif (2) Kontrol Positif (Tikus DMT2 tanpa susu kedelai) (3) Tikus DMT2 dengan genistein 15 ?g/kgBB (4) Tikus DMT2 dengan susu kedelai 10 ml/kgBB (5) Tikus DMT2 dengan susu kedelai 30 ml/kgBB (6) Tikus DMT2 dengan susu kedelai 60 ml/kgBB dan (7) Tikus DMT2 dengan susu kedelai 90 ml/kgBB. Pemberian susu kedelai selama 15 hari. Analisa data menggunakan One Way ANOVA (p<0.05) dilanjutkan dengan uji Tuckey untuk melihat perbedaan masing masing variabel. Analisa data dilakukan dengan menggunakan metode SPSS versi 13. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh yang signifikan pemberian susu kedelai terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus (p=0.02) dan kadar insulin plasma tikus (p=0.00).Penurunan kadar glukosa darah serum dan kadar insulin plasma tertinggi terjadi ketika tikus model DM tipe 2 diberikan susu kedelai dosis paling tinggi yaitu 90 ml/kgBB/hari. Kesimpulan Susu kedelai mampu menurunkan resistensi insulin yang ditandai dengan penurunan kadar glukosa darah serum dan kadar insulin plasma pada tikus model DM tipe 2
Kata Kunci : DMT2, resistensi insulin, Susu kedelai |
|
|
Ditulis oleh NETTA
|
|
Kamis, 19 April 2012 04:12 |
|
FAKTOR- FAKTOR YANG MENYEBABKAN KEIKUTSERTAAN AKSEPTOR KB IMPLANT DALAM PELAYANAN KB SAFARI DI WILAYAH PUSKESMAS KENDAL KEREP KOTA MALANG Wiwik Handayani1, Dewi Ruminah2
1.Prodi S1 keperawatan STIKes Kendedes Malang 2.Prodi D-III kebidanan STIKes Kendedes Malang
ABSTRAK
Pelayanan KB merupakan salah satu upaya pokok pelayanan kesehatan di Puskesmas masih belum mendapat perhatian yang “seharusnya” dari jajaran kesehatan pada tiap tingkatan. Hal ini tidak terlepas dari pengelolaan pelayanan KB selama ini. Masih tingginya peserta KB implant tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. KB safari. Penelitian bersifat deskriptif Exploratif, desain penelitian adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini seluruh akseptor KB baru implant yang ikut KB safari yang dilaksanakan bulan Januari – September tahun 2010 di wilayah Puskesmas Kendal Kerep Kota Malang sebanyak 31 orang. Sampel dalam penelitian ini seluruh akseptor KB baru implant yang ikut KB safari yang dilaksanakan bulan Januari – September tahun 2010 di wilayah Puskesmas Kendal Kerep Kota Malang sebanyak 31 orang. Dan sampel dalam penelitian menggunakan total sampling dan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data untuk pendidikan, pengetahuan, pengalaman, pendapatan menggunakan persentase dan budaya menggunakan skala Likert. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 31 akseptor KB implant yang ikut KB safari didapatkan sebagian besar faktor yang menyebabkan keikut sertaan akseptor KB implant dalam pelayanan KB safari yaitu faktor pendidikan SMP (52%), Hampir seluruhnya (84%) disebabkan faktor pendapatan, faktor pengalaman (52%) hampir setengahnya faktor pengetahuan (48%) dan faktor budaya (58%) tidak mendukung keikutsetaan pelayanan KB safari. Hal ini menunjukan bahwa dari kelima faktor tersebut yang paling menonjol adalah faktor pendapatan. Oleh karena itu bagi peneliti yang berminat untuk melaksanakan penelitian yang berkaitan dengan pelayanan KB safari hendaknya penelitian lebih kongkrit lagi yaitu hubungan keikutsertaan akseptor KB implant dalam pelayanan KB safari dengan faktor pendapatan atau ekonomi
Kata Kunci : Akseptor, KB Implant, KB Safari
LEBIH LENGKAPNYA ADA DI LINK INI |
|
Ditulis oleh netta
|
|
Kamis, 19 April 2012 04:00 |
|
PENGARUH PEMBERIAN KOMPRES HANGAT TERHADAP TINGKAT NYERI PADA LANSIA YANG MENGALAMI NYERI SENDI DI DUSUN KARAJAN DESA NGENEP KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG
Wiwik Handayani
ABSTRAK
Nyeri sendi merupakan salah satu keluhan yang sering di alami oleh lansia. Penatalaksanaan nyeri tersebut bisa dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis. Pemberian kompres hangat merupakan salah satu terapi non farmakologis, tidak banyak menimbulkan efek samping dan mudah di laksanakan oleh lansia secara mandiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kompres hangat terhadap tingkat nyeri pada lansia yang mengalami nyeri sendi. Penelitian ini merupakan pra eksperimen, dengan menggunakan desain one group pre-test dan post-test. Populasinya adalah seluruh lansia yang mengalami nyeri sendi, sampelnya adalah lansia yang mengalami nyeri sendi. Tehnik sampling adalah total sampling. dengan menggunakan 30 responden. Datanya dikumpulkan melalui skala penilaian tingkat nyeri sebelum dan sesudah diberikan kompres hangat. Hasil penelitian menunjukkan presentase sebelum dilakukan pemberian kompres hangat adalah 22 responden (73%) mengalami nyeri sedang dan 8 responden (27%) nengalami nyeri berat. Sedangkan sesudah dilakukan pemberian kompres hangat adalah 19 responden (63%) mengalami nyeri ringan, 10 responden (34%) mengalami nyeri sedang dan 1 responden (3%) nengalami nyeri berat. Hasil uji analisis dengan menggunakan wilcoxon di dapatkan ada pengaruh pemberian kompres hangat terhadap tingkat nyeri pada lansia yang mengalami nyeri sendi. Dari taraf signifikansi 0,05 =1.96. asym sig.(2 tailed)/ P-value sebesar 0.000<?(0,05) didapatkan nilai Ztabel = 1,96 dan nilai Zhitung dari tabel statistik adalah 4,90 sehingga Zhitung >Ztabel (4,90>1,96) maka H1 diterima. Kesimpulannya untuk penelitian ini adalah kompres hangat bisa digunakan sebagai metode untuk mengurangi nyeri sendi pada lansia. Saran bagi peneliti selanjutnya juga bisa menggunakan tehnik lain seperti pemberian kompres dingin sesuai dengan kondisi dan kemampuan klien serta seminimal mungkin menimbulkan efek samping bagi penderita nyeri sendi.
LEBIH LENGKAPNYA ADA DI LINK INI |
|
Ditulis oleh netta
|
|
Kamis, 19 April 2012 03:36 |
|
PERBEDAAN KELUHAN KESEHATAN PEROKOK AKTIF DAN PASIF DI KELURAHAN LOWOKWARU MALANG Wiwik Handayani1, Adies faradhisa2 1.Program Studi S1 Keperawatan STIKes Kendedes Malang 2.ProgramStudi D-III Keperawatan STIKes Kendedes Malang ABSTRAK Merokok merupakan salah satu kebiasaan buruk yang bisa menyebabkan kecanduan seperti halnya kecanduan pada jenis obat tertentuBahan-bahan kimia dari asap rokok itulah yang menyebabkan berbagai jenis penyakit, antara lain kanker paru, bronchitis kronik dan emfisema paru, serta penyakit jantung iskemik dan penyakit-penyakit sistem pembuluh darah lainnya. Gangguan kesehatan akibat merokok bukan ditentukan oleh kadar nikotin dalam sebatang rokok, malainkan ditentukan oleh jumlah volume asap rokok yag diisap per hari dan dalamnya isapan rokok. Selain itu, faktor lain yang bisa menentukan seberapa besar seorang perokok aktif akan terserang penyakit yaitu lamanya merokok. Lama merokok berkaitan juga dengan volume asap yang diisap oleh perokok aktif. Penelitian Ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbedaan keluhan kesehatan antara perokok aktif dan perokok pasif di Kelurahan Lowokwaru Malang. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan komparatif. populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat RT 01 RW 03 Kelurahan Lowokwaru Malang yang merupakan perokok aktif dan perokok pasif berjumlah 45 KK atau 90 orang. sampel dalam penelitian ini adalah sebagian penduduk kelurahan Lowokwaru Malang yang menjadi perokok aktif dan perokok pasif yang berjumlah 15 KK atau 30 orang. Pengambilan sample dengan menggunakan teknik purposive sampling. HasilPenelitian menunjukkan bahwa Responden perokok aktif yang masuk kategori keluhan ringan terdapat 5 orang (33%), dan yang masuk kategori keluhan sedang terdapat 10 orang (67%). Sedangkan responden perokok pasif yang masuk kategori keluhan ringan sama dengan perokok aktif yaitu terdapat 5 orang (33%), dan yang masuk kategori keluhan sedang terdapat 10 orang (67%).Berdasarkan hasil uji hipotesis Mann Whitney didapatkan hasil sig = 0,851. Dengan taraf signifikansi 0,05 maka sig > 0,05 = 0,851 > 0,05. Dengan demikian Ho diterima. Sehingga bisa disimpulkan bahwa tidak ada perbandingan keluhan kesehatan antara perokok aktif dan perokok pasif. Sehingga perlu dilakukan penyuluhan tentang bahaya merokok bagi masyarakat yang lebih intensif. LEBIH LENGKAPNYA ADA DI LINK INI |
|
|
|
|